Bitung, Sulut – Brasnews.net, Bagian Ke-Dua Sabtu (12/10/24).
# Kepada Siap Harus Bertanya Tentang Wahyu
- Tempat Bertanya Tentang Wahyu Adalah Kepada Ahli Dzikir
Q.S. Al Anbiya ayat 7
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya :
Kami tiada mengutus Rasul Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, Maka Tanyakanlah olehmu kepada ahli dzikir, jika kamu tiada mengetahui.
Ahli dzikir yang dijelaskan oleh Al Qur’an dan juga kepada mereka kita dapat bertanya tentang wahyu, perhatikan kalimat “Maka tanyakanlah olehmu kepada ahli dzikir, jika kamu tiada mengetahui”.
Perlu dijelaskan mengapa kita harus beertanya tentang Mimpi kepada ahli dzikir, karena ahli dzikir adalah orang-orang yang mampu menerima wahyu dari Allah dalam arti kata yang lebih luas, mampu berhubungan dengan Allah. perhatikan kalimat “beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka” maka tanyakanlah olehmu kepada ahli dzikir, jika kamu tiada mengetahui.
- Tempat Bertanya Tentang Wahyu Adalah Kepada Para Imam
Q.S. Al Anbiya ayat 73
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
Artinya :
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai Imam-Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah,
Q.S. As Sajadah ayat 24
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
Artinya :
Dan Kami jadikan di antara mereka itu Imam-Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.
Selanjutnya sebaik-baik bertanya tentang mimpi adalah kepada para Imam yang diangkat Allah. Perhatikan kalimat “Kami telah menjadikan mereka itu Imam-Imam yang memberi petunjuk dengan perintah kami” serta kalimat “Kami wahyukan kepada, mereka”.
Mengapa diharuskan bertanya tentang mimpi kepada para Imam, maka sebagai jawaban, yang pertama karena para Imam diangkat oleh Allah. Perhatikan kalimat “Kami telah menjadikan mereka itu Imam-Imam”, sebagai alasan yang kedua karena tugas para Imam adalah memberi petunjuk kepada manusia dengan instruksi keilmuan dari sisi Allah. Perhatikan kalimat “yang memberi petunjuk dengan perintah Kami”. Adapun hujjah yang ketiga bahwa para Imam mampu menerima wahyu, yang menunjukkan terjadinya hubungan antara Tuhan dan hambanya. Perhatikan kalimat “telah Kami wahyukan kepada, mereka”.
- Tempat Bertanya Tentang Wahyu Adalah Kepada Utul Ilma Yaitu Orang-Orang Yang Diberi Ilmu Dalam Hadits Disebut Ulama
Q.S. Al Ankabut ayat 49
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ
Artinya :
Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada Utul Ilma (orang-orang yang diberi ilmu). dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.
Sebaik-baik tempat bertanya tentang wahyu adalah kepada Utul Ilma yaitu orang-orang yang diberi ilmu, pada hadits Nabi dijelaskan dengan sebutan Ulama. Mengapa keharusan bertanya tentang mimpi kepada Utul Ilma, sebagai hujjah bahwa didalam dada Utul Ilma terdapat Ilmu yaitu ruh Al Qur’an yang diwahyukan Allah. Perhatikan kalimat pada firman Allah tersebut diatas “Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada Utul Ilma (orang-orang yang diberi ilmu)”.
Yang perlu dijelaskan lebih lanjut, bahwa ayat-ayat Al Qur’an yang berada didalam dada Utul Ilma adalah ruh Al Qur’an, maka dikemukakan firman Allah sebagaimana tersebut dibawah ini :
Q.S. Asy Syuura ayat 52
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya :
Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu nur, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Firman Allah inilah yang memberikan kejelasan bahwa ayat-ayat Al Qur’an yang berada didalam dada Utul Ilma adalah ruh Al Qur’an yang diwahyukan dari sisi Allah. Perhatikan kalimat “kami wahyukan kepadamu ruh (Al Qur’an)”.
Dan untuk lebih memperjelas bahwa ruh Al Qur’an diwahyukan dari sisi Allah, diturunkan oleh malaikat Jibril a.s, kedalam dada atau tepatnya kedalam hati Utul Ilma. Untuk hal tersebut dikemukakan firman Allah sebagaimana tersebut dibawah ini
Q.S. Asy Syu’araa ayat 193-194
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
Artinya :
Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,
Firman Allah ini yang menjadi pedoman bahwa ilmu yaitu ayat-ayat Al Qur’an didalam dada Utul Ilma adalah ruh Al Qur’an yang diwahyukan dari sisi Allah dan wahyu tersebut diturunkan didalam dada tepatnya didalam hati Utul Ilma oleh Ar Ruh Al Amin (Jibril).
Maka sebagai kesimpulan sebaik-baik tempat bertanya adalah kepada Utul Ilma yaitu orang-orang yang diberi ilmu yang lazim disebut Ulama. Dengan hujjah bahwa Utul Ilma atau Ulama adalah orang-orang yang didalam dadanya terdapat ruh Al Qur’an yaitu wahyu dari sisi Allah.
- Tempat Bertanya Tentang Wahyu Adalah Kepada Orang-Orang Bertaqwa
Q.S. Al Baqarah ayat 282
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ
Artinya :
Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Firman Allah tersebut diatas menjelaskan bahwa orang-orang bertaqwa adalah pemilik laduna ilma atau ilmu laduni yaitu pelajaran-pelajaran dari sisi Allah, adapun pelajaran-pelajaran dari sisi Allah dapat dipastikan adalah wahyu.
Maka sebaik-baik tempat bertanya tentang mimpi adalah kepada orang bertaqwa, karena mereka menerima wahyu berupa pelajaran-pelajaran dari sisi Allah. Perhatikan kalimat “bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu”.
# Zalim Bagi Orang-Orang Yang Berdusta Dalam Uusan Wahyu
Q.S. Al An’am ayat 93
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ ۖ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ
Artinya :
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.
Firman Allah tersebut diatas memberikan penjelasan bahwa berdusta dalam urusan wahyu adalah termasuk orang-orang yang zolim, yaitu orang-orang yang berkata bahwa Allah menurunkan wahyu kepadanya, padahal yang sebenarnya tidak ada wahyu diturunkan kepadanya atau orang yang berkata, telah diwahyukan kepada saya padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya. Perhatikan kalimat. “Telah diwahyukan kepada saya”, Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya”