Banda Aceh.Brasnews.net – 28 Agustus 2025.
Dunia pertukangan di Aceh selama ini berjalan apa adanya, namun kini tuntutan zaman tidak lagi bisa ditawar. Tukang tidak cukup hanya memegang palu dan paku, tetapi wajib memiliki kompetensi, sertifikasi, serta daya saing agar tidak kalah dalam menghadapi derasnya arus pembangunan dan persaingan global.
Menyadari tantangan itu, Persatuan Tukang Aceh (PTA) bersama mitra strategis menghadirkan Diskusi Publik bertajuk: “Optimalisasi Pertukangan Aceh untuk Meningkatkan Kompetensi dan Daya Saing Tukang dalam Menghadapi Tantangan dan Peluang.”
_Informasi Acara:_
📅 Hari/Tanggal: Rabu, 10 September 2025
🕘 Waktu: 09.00 WIB – selesai
📍 Tempat: Gedung Landmark BSI Aceh Lt. 8, Jln. Tgk. Muhammad Daud Beureueh No. 15, Banda Aceh
_Narasumber:_
– Dr. H.M. Nasir Djamil
– Anggota DPR RI
– H. Irmawan, S.Sos., M.M – Anggota DPR RI
– Indra Suhada, S.T., M.T – Kepala BJKW Wilayah I Banda Aceh
– Heri Yugiantoro, S.T., M.T – Kepala BPJN Aceh
– Teuku Abdul Hannan – Pemerhati Pengadaan Barang dan Jasa
_Moderator:_
Abdul Qudus, S.H.
_Sertifikasi Jadi Penentu_
Selama ini, tukang Aceh kerap dipandang sebelah mata, padahal merekalah ujung tombak pembangunan infrastruktur. Sayangnya, masih banyak tukang lokal yang kalah bersaing dengan tenaga dari luar daerah karena lemahnya sertifikasi, standar mutu, dan keterampilan. Pertanyaan besar pun muncul: mengapa proyek-proyek besar di Aceh masih banyak dikerjakan oleh tukang dari luar? Forum ini berusaha menjawab keresahan itu dengan solusi konkret: tukang Aceh harus dibekali sertifikasi resmi agar dapat diprioritaskan dalam setiap proyek pembangunan.
_Harapan untuk Tukang Lokal_
Ketua Dewan Penasehat PTA, Drs. Isa Alima, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak boleh berhenti sebagai seremonial belaka. “Diskusi publik ini harus memberi hasil positif bagi para tukang Aceh agar mampu bersaing, sekaligus memiliki sertifikasi pertukangan sesuai bidangnya masing-masing. Kami juga berharap pemangku kepentingan dapat memprioritaskan tukang lokal yang sudah bersertifikat, sehingga mereka tidak lagi tersisih di tanah sendiri,” ujarnya.
Isa juga mengapresiasi kerja keras panitia penyelenggara dan semua pihak yang telah berpartisipasi menyukseskan kegiatan ini. Ia berharap ke depan pengurus PTA Aceh semakin bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk melahirkan gerakan nyata dalam pemberdayaan tukang lokal.
_Suara dari Masyarakat_
Keresahan serupa juga disampaikan masyarakat. Tidak sedikit yang bertanya-tanya, mengapa proyek besar di Aceh justru lebih banyak dikerjakan oleh tukang luar daerah, sementara tukang lokal hanya menjadi penonton. “Kalau bukan tukang Aceh yang membangun Aceh, lalu siapa lagi? Jangan sampai negeri ini dibangun dengan tangan orang luar, sementara anak negeri hanya berdiri di pinggir jalan menyaksikan,” ungkap seorang tokoh masyarakat dengan nada getir.
_Momentum Kebangkitan Tukang Aceh_
Diskusi publik ini menjadi panggung awal menuju masa depan pertukangan Aceh yang lebih profesional, bermartabat, dan berdaya saing. Dengan sertifikasi sebagai kunci, tukang Aceh diyakini mampu berdiri tegak, bersaing dalam proyek nasional, bahkan menembus panggung global.(*)